Melepaskan Kesempurnaan

Melepaskan Kesempurnaan

Saya punya beberapa gagasan tersendiri mengenai kesempurnaan. Salah satunya adalah saya harus menjalani hidup sehari-hari dengan cara yang pas. Hal lainnya adalah pengejaran mimpi-mimpi besar diri ideal saya, dan kehidupan yang saya bayangkan dahulu. Saya berencana untuk menikmati kesuksesan, walaupun kenyataannya saya tidak berprofesi. Satu impian lama adalah untuk membangun sebuah perusahaan yang berprinsip adil secara ekonomis dan sosial, di mana para karyawan diberi upah layak, tunjangan kesehatan, cuti yang memadai, dan bahkan fasilitas tempat tinggal yang terjangkau. Saya membayangkan bahwa kami semua saling menghormati satu sama lain dan berkomunikasi laiknya satu tim di kubu yang sama dengan tujuan yang sama. Ah, utopia!

Pada akhirnya saya bukannya mengelola sebuah perusahaan dengan ribuan karyawan, tapi saya menjalankan sebuah rumah tangga yang terdiri atas dua anak, seorang suami, dan seekor anjing. Kalau mengevaluasi diri dari sisi ini, rasanya hidup ini terlihat seperti serangkaian kegagalan. Ada perasaan kekosongan karena saya tidak memadai, menghukum diri sendiri karena tidak melakukan yang seharusnya yaitu mengejar impian idealis saya. Bahkan ada perasaan tak berharga dan tak berhak -maupun perasaan tak dicintai. Tentu saja tidak ada orang-orang penting dalam hidupku yang terang-terangan berkata bahwa jika keluarga saya bukanlah perwujudan dari sebuah kesempurnaan, maka saya tak berharga. Saya sadar bahwa saya tentunya punya nilai-nilai hakiki sebagai manusia -saya seorang saudara perempuan dan ibu yang tulus. Tapi tetap saja kadang-kadang merasa seperti kehidupan saya terhambat.

Ternyata di sinilah kepentingan peran memaafkan diri sendiri itu menjadi jelas. Memaafkan diri dapat menyembuhkan luka-luka yang sebenarnya berasal dari diri kita sendiri. Jalan yang saya tempuh antara lain dengan mencintai diri sendiri dan bersyukur. Saya mampu menerima diri saya seadanya dengan memberikan sebentuk kebaikan, seperti yang saya berikan kepada seorang teman dalam kesulitan, kepada diriku. Menerima ketidaksempurnaan hidup ini juga kunci untuk melangkah maju. Sadari bahwa Anda telah membuat keputusan terbaik dalam berbagai peristiwa titik balik kehidupan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan kita rasakan dalam 10 hari ke depan, atau 10 bulan, maupun 10 tahun setelah membuat keputusan semacam ini. Kita baru akan tahu setelah menjalaninya. Berikan diri Anda sebuah keyakinan dan bersyukurlah bahwa Anda telah melakukan upaya terbaik. Ketika saya menerima bahwa saya membuat keputusan-keputusan besar itu dalam itikad yang baik, saya bisa melihat dengan jelas hal-hal positif dalam hidup saya dan bersyukur atas semua itu. Saya bahkan bisa merayakan kehidupan saya sebagaimana adanya, dengan keluarga yang sehat, persahabatan yang bermakna, dan banyak hal lainnya.

Hasilnya, selama 10 tahun terakhir ini, saya telah belajar untuk perlahan-lahan melonggarkan belenggu diri untuk selalu mengejar kesempurnaan, tugas, kendali, dan pencapaian yang tak ada habisnya. Beranilah melatih diri menjalani kehidupan sebagaimana adanya, secara tulus, ketimbang sebagaimana hidup berjalan seharusnya dalam bayangan Anda.

Hadirkan diri Anda saat ke saat setiap hari. Ketika makan siang, tataplah dan nikmatilah tiap gigitannya. Sesap minuman Anda dan rasakan kenikmatannya. Kalau Anda toh merasa perlu berubah, ketahuilah dan percaya bahwa Anda punya berbagai sumber daya untuk melakukannya. Kepercayaan inilah bahan paling penting untuk menciptakan perubahan dalam hidup Anda. Izinkan diri Anda untuk melepaskan impian gambar besar, sambil juga pertahankan beberapa unsur yang masih mungkin berlanjut dalam versi baru dari impian tersebut. 

Saya masih bisa menjadi katalis untuk transformasi yang positif di lingkungan saya. Mungkin suatu saat nanti saya akan menjalankan sebuah perusahaan utopis. Saya masih terus mengupayakan semua ini. Begitu juga Anda.

Mila Atmos is a columnist whose work has been featured by The Huffington Post, Quartz, and Medium.

If you liked this post, please share it or leave your thoughts in a comment below.