Harga Sebuah Ya

Harga Sebuah Ya

Saya mengalami kesulitan untuk mengatakan tidak. Jika seseorang meminta saya untuk melakukan sesuatu, saya hanya menambahkannya ke daftar panjang untuk dilakukan. Hari ini, saya harus menyediakan sarapan anak-anak, mengantar mereka ke sekolah, mengurus anjing, kembali ke sekolah untuk membantu menjahit sepatu sandal, olah raga, memasak makan malam, dan pergi ke pesta. Kedengarannya begitu banyak.

Tapi tenang saja, saya bangga karena bisa menyelesaikan semuanya secara efisien. Sepanjang hari, saya sibuk berputar tanpa akhir yang jelas ataupun tujuan. Tidak heran saya sering kewalahan dan kesal. Saya tahu bahwa saya tidak sendiri. Secara kolektif dan dengan penuh murah hati, kita terus berikan waktu, perasaan, dan semua yang ada pada kita. Kita telah sampai di sebuah titik di mana kita sudah mengorbankan diri sendiri: untuk anak-anak, karier, orangtua yang sudah sepuh, dan bahkan untuk komunitas kita.

Kita merasa bahwa tujuan hidup hanyalah untuk memenuhi harapan orang lain terhadap kita. Kita tempuh ini semua dengan tabah sembari menganggapnya sebagai tugas mulia, sesuatu yang lekat dengan integritas kita. Kita tidak ingin membuat orang jadi kecewa. Kita begitu sibuk memberi kepada orang lain, sehingga kita tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Ini sungguh tidak sehat dan harus berhenti. 

Kita harus bisa menemukan cara untuk mengurangi ini semua untuk kebaikan diri kita sendiri, apalagi kalau kita merasa ada kewajiban. Seandainya saya diundang ikut arisan, sepatutnya saya hadir dan mendukung teman saya. Saya akan bebas dari rasa bersalah karena saya tidak akan mengecewakan teman saya itu dan saya tidak akan kelihatan seperti mengelak dari tanggung-jawab.  

Saya berpikir, “Saya harus bilang ya atau orang ini akan berhenti menyukai saya. Saya harus mengatakan ya agar tidak terkesan buruk di depan orang banyak.” Walaupun sebenarnya saya terlalu lelah untuk ikut arisan, saya merasa tidak boleh melewatkannya. Saya bisa dianggap sombong, lancang, dan teman saya pasti akan kecewa. Tapi apa betul? Jangan-jangan dia hanya perlu bantuan saya agar tahu ada berapa banyak tamu yang akan datang, dan barangkali dia juga berpikir apa dia bisa mengandalkan saya untuk membawa makanan kecil seperti kue basah. 

Kalau kita kerap setuju untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya kita tidak ingin lakukan, dan yang nyatanya juga tidak sangat perlu dilakukan, niscaya hati dan jiwa kita akan tergerogoti. Kalau kita terus berbuat seperti itu, kita akan kehilangan harga diri. Memang, sepintas ada persepsi yang mengatakan bahwa kewajiban dan sopan-santun adalah dua hal yang tak boleh dihindari. Kita pantang mengelak dari semua itu karena biayanya pasti tinggi.

Tapi, kenyataannya adalah sebaliknya. Konsekuensi dari suatu penolakan, apalagi kalau dilakukan dengan sopan, sebenarnya relatif kecil. Barulah saya sadari bahwa saya tidak bisa mengorbankan diri sendiri hanya untuk memuaskan orang lain. Sebenarnya, justru kalau kita terus-menerus tidak menghargai diri sendiri dengan selayaknya, kita pasti kehilangan integritas. Analoginya adalah masker oksigen yang jatuh dari plafon pesawat dalam keadaan darurat. Semua video keselamatan menayangkan orangtua dengan senyum yang hangat, mengenakan masker untuk diri sendiri, untuk lalu membantu anaknya mengenakan masker.

Dalam kehidupan kita sehari-sehari, kita juga perlu memakai masker oksigen kita terlebih dahulu, sebelum menolong orang lain. Ketika kita telah mengabaikan diri kita sendiri, maka kita tidak akan bisa menolong orang-orang di sekitar kita, seperti keluarga, teman-teman, ataupun para kolega kita. 

Ketika saya merasa kewalahan karena beban komitmen yang terlalu banyak, obat yang paling manjur adalah sesuatu yang amat sederhana: bersyukur. Pikirkan saja sesuatu yang dapat saya syukuri, lalu kepanikan dengan cepat mereda.  Sirna sudah tekanan dan ketegangan hari itu. Saya sadari kembali bahwa segala sesuatu di dalam hidup saya adalah berkat. Saya merasa tidak perlu lagi berada di tempat lain, cukup di tempat saya sedang berada pada saat ini.

Rasa syukur adalah bentuk tertinggi dari sikap menerima, dan kita mustinya lebih sering berada dalam keadaan ini. Hal tersebut menghilangkan perasaan bahwa saya telah melakukan suatu kesalahan, atau bahwa saya bisa melakukan sesuatu dengan lebih – apapun itu artinya. Lebih jauh lagi, saya bisa melihat jelas gambaran besar diri saya di semesta ini. Berkah yang berlimpah dalam hiduppun menjadi terasa makin nyata.

Selain itu, saya belajar untuk sedikit merelakan. Saya memberdayakan anak-anak saya untuk melayani diri mereka sendiri di meja makan dan menaruh piring kotor ke mesin cuci setelah makan. Saya percaya bahwa orang-orang yang telah saya tugaskan akan melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Saya berhenti mencoba untuk jadi manusia yang tujuan hidupnya adalah sekedar memenuhi berbagai harapan ataupun ekspektasi. Saya timbangkan kembali daftar prioritas saya. 

Saya akan tinjau penyusunan prioritas di mana diri kita sendiri selalu berada di titik terakhir. Buatlah pilihan yang sehat untuk diri kita sendiri dengan menaruh diri sendiri pada daftar teratas. Luangkan lebih banyak waktu dari yang kita pikir perlu untuk mengisi ulang tenaga dan menjadi diri sendiri.

Pastikan kita termotivasi dengan perawatan diri yang sejati, bukan pelarian. (Catatan: main Facebook selama setengah jam dan berbelanja di internet tidak termasuk.) Kurangi berkegiatan, bukannya memperbanyak, untuk menghargai diri kita yang sesungguhnya. Matikan ponsel pintar. Cobalah tidur siang atau berjalan-jalan di taman. Bermeditasi. Membaca novel. Katakan tidak untuk pesta yang kita terlalu lelah untuk hadiri. Kendalikan dorongan untuk mengatakan ya.

Mila Atmos is a columnist whose work has been featured by The Huffington Post, Quartz, and Medium.

If you liked this post, please share it or leave your thoughts in a comment below.